Rabu, 21 Desember 2016

Apa yang Terjadi Jika Indonesia Tanpa Petani?


Pagi yang indah, hamparan hijau ladang petani terlihat indah dipelupuk mata, burung-burung saling bercengkrama dengan kicauan yang bersautan. Dari kehijaunnya, terlihat para petani yang sedang beraktivitas di ladangnya, mulai dari yang menanam cabai, menyangkul tanah, ada juga yang menyemai ataupun memanen padi.

Indonesia terkenal dengan negara agraris, siapa yang tidak mengerti. Negara dengan segala jenis tumbuhan dapat survive di tanah air Indonesia. Jenis buah-buahan, sayur-sayuran, ataupun rempah-rempah tumbuh subur di setiap ladang persawahan yang tersebar luas disetiap pelosok negeri ini. Namun sayangnya dengan sumber daya alam (SDA) yang melimpah, sumber daya manusia (SDM) yang ada di Indonesia belum berjalan beriringan. Hal tersebut terjadi karena kurangnya rasa percaya diri bangsa ini untuk menjadi seorang petani.

Saat ini ladang persawahan di Indonesia sedang krisis petani, yang tersisa hanyalah para tetua yang sudah lanjut usia. Ladang ini sudah tidak menarik bagi para generasi muda untuk mengembangkan sumber daya alamnya. Mereka lebih ikhlas, tanah mereka beralih lahan  menjadi perumahan, gedung-gedung bertingkat, serta pabrik-pabrik tak sehat.

Kemana para pemuda para generasi bangsa ini?

Mari kita berfikir bersama, apakah ada orang tua yang menginginkan buah hatinya kelak menjadi seorang petani?
Jawab saya ‘TIDAK ADA”, karena orang tua pada umumnya lebih merasa diakui oleh lingkungannya ketika putra-putrinya menjadi seorang dokter, guru, tentara, polisi, bahkan menjadi seorang pegawai pabrik. Sehingga orang tua terkesan menghardik putra-putrinya menjauhi persawahan mereka dengan cara melarang putra-putrinya melanjutkan jejak mereka menjadi seorang petani. “Hidup di sawah itu susah nak, sudah kepanasan, kepayahan pula kerjanya” begitulah dalih orang tua.  Sehingga tidak jarang ketika seorang bocah main ke ladang, orang tua sudah memanggilnya untuk segera pulang. Secara tidak lain orang tua sudah menanamkan “Image buruk mejadi seorang petani”.

Akhirnya, dilapangan sekarang sudah bisa kita rasakan. Bagaimana sulitnya untuk menemukan seorang generasi muda yang terjun di ladang mengelolah sawahnya. Mereka lebih memilih menjadi seorang pegawai yang tak terkena terik matahari secara langsung yang bekerja teratur dengan gaji yang pasti. Dan para orang tua melihat bangga putra-putrinya memakai baju necis, dengan rambut yang tersisir rapi.

Terus “apakah kita bisa hidup, jika tanpa petani?”
Kalian mau makan apa?
Jika tidak ada petani yang menanam padi, mau makan beras plastik?
Jika petani punah, siapa yang menanam palawija untuk cita rasa masakanmu
Jika buah-buahan dan sayur-sayuran sudah tidak ada yang menanam, sudah tidak bisa berkata apa apa.

Apa yang bisa kita lakukan sebelum petani benar-benar punah?
Bagi para pengangguran, terjunlah mulai sekarang ke pertanian. Mulailah percaya diri untuk menanam, mencangkul dan menyemai. Kalian harus bangga, petani itu seperti pengusaha, dia bebas menentukan kapan ia bekerja. Sekali panen ia akan untung, sekali gagal panen ia merugi. Yah tidak jauh beda dengan berdagang, ada untung dan dapun rugi.
Untuk para orang tua, biarkan ladang ataupun persawahan itu terjamah oleh kaki-kaki mungil calon generasi bangsa. Tanamkan kepada mereka untuk mencintai lingkungan, ajarkan tentang pengetahuan yang engkau ketahui tentang pertanian. Jangan biarkan putra-putri kalian hanya mainan gadget, mari kita kenalkan dengan SDA Indonesia yang kaya. Dan jangan sekali-sekali judge bahwa pekerjaan menjadi seorang petani adalah pekerjaan rendahan.