Rabu, 21 Desember 2016

Gadget Sudah Mewabah di Dunia Cadel




Ada kebahagiaan tersendiri saat ada canda tawa antara aku dengan mereka. Serasa ada magnet tersendiri untuk kaki ini melangkah bergandengan dengannya. Terkadang pertanyaan dengan bicaranya yang masih cadel membuatku kagum bagaimana hebatnya seorang anak kecil. Kita wajib belajar dari seorang anak kecil, kita harus mengakui kehebatannya. Kehebatannya untuk selalu tersenyum bahagia, kehandalannya dalam hal melupakan dan memaafkan, sampai imajinatif berfikir mereka yang terkadang kita sepelekan.


Dimana tempatku berada, untuk menemukan sesosok mungil itu tidaklah sulit. Daerah pedesaan ataupun perkotaan, mereka sama-sama memberikan tingkah lucunya untuk memberikan sinyal bahwa dia ingin diperhatikan. Awal bertemu, ketika ditanya ia akan lari ataupun hanya diam. Untuk hari berikutnya sudahlah lepas gerbang pertahanan mereka, pokoknya seribu teknik untuk bersama mereka.


Semakin aku dekat dengan mereka, semakin aku mengerti dunia mereka, semakin prihatin pula melihat keadaan mereka saat ini. Anak-anak lebih banyak dikurung orang tua mereka untuk duduk didepan televisi atau bermain gadget. Orang tua yang katanya sayang, lebih percaya dengan totonan televisi yang asli asli tidak sangat mendidik. Ayah ibu mereka lebih mempercayakan gadget sebagai wadah mereka untuk bermain. Namun sayangnya itu semua bukan pilihan yang baik untuk masa golden age seorang anak.

Seandainya orang tua tau, sesungguhnya di dunia nyata para pencipta gadget tidak membiarkan  gadget sebagai mainanan putra-putrinya. Mereka lebih mendidik putra-putrinya dengan bermain dengan sekawan sebayanya dan lingkungan sekitarnya. Karena mereka tahu bahwa sesunggunhnya gadget akan memberikan pengaruh buruk untuk motoric seorang anak bahkan psikologisnya.

Sadar atau tidak, anak-anak kecil yang biasanya berlari-lari itu adalah para generasi penerus bangsa ini. Jika mereka hanya diajarkan untuk berdiam diri, bagaimana masa depannya kelak. Bagaimana ia dapat menjalin suatu relasi dengan seseorang jika semasa kecilnya ia direlasikan dengan aplikasi. Bagaimana ia bisa mempunyai mobilitas yang tinggi, jika mereka sekarang hanya dianjurkan berdiam diri. Bagimana ia dapat menjaga lingkungannya, jika ia tidak sempat bercengkramah dengannya.

Namun ada apa dengan Indonesia?
Banyak orang tua yang lebih merasa aman dengan melihat putra putrinya yang selalu dirumah dengan rutinitas yang cukup pasif. Aku rindu melihat masa kecil zamanku dulu. Anak-anak yang bermain kelereng, petak umpet, gobak sodor, ataupun sonda itu terlihat lebih seru daripada hanya menenteng gadget ataupun menonton tayangan televisi.

Memang zamannya sudah beda, namun apakah tidak mungkin permainan-permainan yang mengeratkan sekawan, yang mengajarkan emosi dan saling memaafkan itu kita lestarikan. Untuk generasi pemuda, mari kita kenalkan kembali permainan-permainan yang sekiranya masih cocok dengan lingkungan dan lahan yang ada. Untuk para orang tua, saya sadar Bapak/Ibu sekalian orang sibuk, sebenarnya anak tidak hanya membutuhkan materi melainkan juga kasih sayang. Bukan kasih sayang dengan membelikan gadget untuk menemaninya bermain, melainkan menemani mereka untuk beraktivitas dalam kesehariannya