Kamis, 22 Desember 2016

Sungaimu Bukan Tempat Sampah


Siang hari, ketika "om telolet om" menjadi bahan perbincangan dimana-mana, akupun penasaran, yah setidaknya melihat fenomena itu secara langsung. Akhirnya, rencana pulang kali ini aku putuskan naik bus dan duduk di kursi paling depan bersama pak sopir dan kornetnya.

Ketika bus mulai berjalan, akupun mulai mencoba fokus di balik kaca untuk memantau "om telolet om" di rute perjalananku dari terminal Yogyakarta. Sesekali saat fokusku terjaga, dari bilik kaca bus kulihat beberapa kali teriakan "om telolet om" dengan gelak tawa mereka yang bersautan dengan klakson bus yang mengaung. Pikirku, bahagia memang tak harus mahal, hanya sesederhana itu dan cukup membuat bahagia mereka dan aku yang mengawasinya dari tadi.


Namun sedihnya ketika salah fokusku melihat beberapa kali pembuangan limbah rumah tangga di hiliran sungai, tidak sekali dua kali bahkan sampai sepuluh kali aku melihat warga yang dengan percaya dirinya membuang sampah seenaknya. "Saat banjir mereka mengeluh, tapi dengan seenaknya mereka menciptakannya" gumamku.

Akhirnya, salah fokus sudah. Kini aku lebih banyak berfikir tentang sampah dan sungai. Mari kita mulai amati sungai-sungai kita, mereka sudah terlihat kecoklatan bahkan kehitaman dengan sampah-sampah yang mengapung dimana-dimana. Sungai yang dulu sebagai sumber mata air, kini telah terpuruk. Sungai yang dulu mengalir dari hulu kehulu kini mulai  tersendat oleh sampah.  

Ketika hujan menerjang kini sungai mulai mudah meluap, menahan aliran air yang deras dan sampah yang yang semakin menumpuk dipermukaan sungai. Sehingga tidak salah banjir terjadi dimana-mana, banjir yang dikeluh-keluhkan masyarakat, banjir yang meluluh lantahkan bumi pertiwi, dan yang terkadang memakan beberapa nyawa.

Banjir dimana-mana bukan masalah selokan, melainkan sampahmu telah menumpuk di aliran-aliran kota-kotamu. Ini bukan tugas pemerintah, melainkan tugas kita bersama. Ini bukan masalah pemerintah, melainkan ini masalah masyarakat yang kurang sadar akan membuang sampah pada tempatnya.

Ayolah jangan membuang sampah pada sungai-sungai kita, lihatlah sungai-sungaimu kini telah kotor, berserakan sampah sampah dimana-dimana, semakin lama semakin pekat warnanya, semakin lama semakin menyengat baunya.