Jumat, 16 Desember 2016

Karena Penulis Adalah Tuhan dalam Novelnya



Banyak jenis buku yang bisa dikonsumsi oleh khalayak umum, salah satunya adalah novel yang gemar sekali dibaca oleh kaum muda. Secara kasat mata, kebanyakan novel itu tebal. Namun ajaibnya lebih cepat kelar membacanya daripada ensiklopedi, artikel, kamus ataupun buku pelajaran. Sampai-sampai novel seolah camilan yang nikmat untuk menemani selingan untuk beraktivitas ataupun sebagai jajanan yang siap disantap habis saat waktu luang.

Banyak nama yang terkenal berkat karangan novelnya, siapa yang tidak tau J. K Rowling yang tersohor dengan karangan novelnya Harry Potter, Stephenie Meyer dengan salah satu karyanya yaitu Twilight ataupun Breaking Dawn. Kedua nama tersebut dalam kancah internasional sudah melegenda namanya. Untuk Indonesia sendiri siapa yang tidak tau Andrea Hirata dengan tetralogi laskar pelanginya, Tere liye yang bukunya banyak menjadi best seller di toko-toko buku terdekat, Ataupun Asma nadia dengan kisahnya yang selalu membuat pembacanya berdecak kagum.

Novel merupakan versi panjang dari sebuah cerpen. Jika cerpen dibaca sekali habis, namun novel perlu beberapa jam ataupun beberapa hari baru kelar sampai ending. Novel tergolongan karangan fiksi, suatu karangan yang dibuat-buat oleh penulisnya. Terkadang juga ditemui novel dari kisah nyata atau mengambil beberapa peristiwa kehidupan untuk di kembangkan dan dimodifikasi sesuai dengan imajinasi penulis, sehingga kebanyakan novel bukan 100% murni cerita fiksi.

Karangan fiksi sangat berbeda dengan karangan nonfiksi. Pada karangan nonfiksi, penulis dituntut untuk menggunakan bahasa yang baku dan setiap tulisan yang dihasilkan harus mempunyai sumber penulisan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Namun untuk pengarang fiksi, hal demikian tidak berlaku.  Penulis fiksi lebih dituntut kreatif, imajinatif, bebas, tidak terikat bahkan seolah tuhan dalam karangannya.

Ada yang mengelompokkan novel menurut tema ceritanya, seperti roman, komedi, fantasi, horror ataupun kisah inspiratif. Namun tidak jarang juga ditemui satu karangan novel yang memuat beberapa tema sekaligus. Lagi-lagi penulislah yang berkuasa menentukan tema mana yang akan ditonjolkan.

Bagi kalian yang tidak suka membaca, bisa jadi novel menjadi bahan pertimbangan untuk berhijrah dari yang tidak suka menjadi suka.  Menurut pengalaman, novel itu bacaan ringan yang tidak menuntut banyak pembacanya untuk mengerti, melainkan pembaca sendirilah yang akan terus fokus membacanya karena  kisah, alur, ataupun klimaks dari ceritanya yang membuat pembacanya selalu penasaran.

Karena tidak ada membaca yang tidak bermanfaat, novelpun demikian. Dengan membaca novel, kalian akan belajar banyak hal dari setiap kisah yang diceritakan, dari opening sampai closing cerita pasti ada pengetahuan, pengalaman yang ingin disampaikan penulis untuk pembacanya. Tidak sedikit, pembaca terbawa kalutnya konflik sampai meneteskan air mata, tidak jarang pembaca yang menemukan inspirasi sehingga termotivasi untuk menjalani hidup kedepan yang lebih baik, bahkan hampir semua pembacanya akan terselimuti rasa penasaran bagaimana alur ceritanya.

Membaca belum cukup, kita masih juga perlu untuk menulis, tidak terkecuali untuk menulis novel. Menulis novel itu antara mudah dan sulit, percaya diri dan takut. Saya yakin bagaimana hebatnya J. K Rowling yang hanya cukup melihat sapi diladang dan petir yang menyambar dalam menciptakan karakter utamanya harry potter dengan tanda kilat di dahinya. Saya yakin bagimana kreatifnya Stewpenie Meyer yang cukup bermimpi melihat sepasang pria wanita di padang pasir untuk menciptakan cerita romanya Twilight. Memang menulis novel dituntut banyak berimajinasi dan berfikir kreatif, bagaimana kamu mencipta karakter dan latar  itu hidup dalam novelmu,  bagaimana kamu merancang alur  yang mempermainkan keingintahuan pebacanya, bahkan bagai
mana kamu memperkaya pengalaman dan pengetahuan yang ingin di sampaikan kepada pembaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar