Minggu, 18 Desember 2016

Putus Sekolah




Gunawan (2000) menyatakan putus sekolah merupakan predikat yang diberikan kepada mantan peserta didik yang tidak mampu menyelesaikan suatu jenjang pendidikan, sehingga tidak dapat melanjutkan studinya ke jenjang pendidikan berikutnya. 

Anak putus sekolah adalah murid yang tidak dapat menyelesaikan program belajarnya sebelum waktunya selesai atau murid yang tidak tamat menyelesaikan program belajarnya. Sedangkan anak tidak lanjut sekolah adalah anak yang telah menyelesaikan studinya pada jenjang pendidikan tertentu dan tidak melanjutkan pendidikannnya ke jenjang yang lebih tinggi (Idris, 2011).

Untuk mengetahui jumlah anak putus sekolah, maka harus diketahui terlebih dahulu angka putus sekolah di daerah tertentu. Angka Putus Sekolah adalah perbandingan antara siswa yang meninggalkan sekolah pada tingkat tertentu atau sebelum lulus pada jenjang pendidikan tertentu dengan siswa pada tingkat dan jenjang pendidikan tertentu pada tahun ajaran sebelumnya (Info Dikdas, 2011). Jenjang pendidikan yang masih menyumbangkan putus sekolah dalam jumlah besar di Indonesia adalah pendidikan menengah yakni SMA sederajat.

Pendidikan menengah merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan sosial (Fuad, 2003). Pendidikan menengah bertujuan untuk mengembangkan potensi dan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi. Pendidikan menengah terdiri dari pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan.

Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional jenis pendidikan sekolah menengah ada 2 yaitu: 

1. Pendidikan Menengah Umum
Pendidikan sekolah menengah umum diselenggarakan oleh Sekolah Menengah Atas (SMA) yang dulunya disebut sebagai Sekolah Menengah Umum (SMU) atau Madrasah Aliyah (MA). Pendidikan menengah umum dapat dikelompokkan dalam program studi sesuai dengan kebutuhan untuk belajar lebih lanjut di perguruan tinggi dan hidup di dalam masyarakat. Pendidikan menengah umum terdiri atas 3 tingkat.  

2. Pendidikan Menengah Kejuruan
Pendidikan menengah kejuruan diselenggarakan oleh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). Pendidikan menengah kejuruan dikelompokkan dalam bidang kejuruan didasarkan pada perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni, dunia industri/dunia usaha, ketenagakerjaan baik secara nasional, regional maupun global, kecuali untuk program kejuruan yang terkait dengan berbagai upaya pelestarian warisan budaya. Pendidikan menengah kejuruan terdiri atas 3 tingkat dan dapat juga terdiri atas 4 tingkat sesuai dengan tuntutan dunia kerja. Berpedoman pada Undang-Undang No.2 Tahun 1989, pendidikan menengah berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia.

Tujuan pendidikan menengah, dalam Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 bahwa pendidikan menengah bertujuan untuk:
1. Meningkatkan pengetahuan siswa untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dan untuk mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian.
2. Meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitar.


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Angka Putus Sekolah

Menurut Beeby (1980), metode apapun yang digunakan untuk meneliti di seluruh tingkat sekolah, seluruh peneliti berkesimpulan bahwa putus sekolah lebih merupakan masalah sosial ekonomi dari pada masalah pendidikan. Mayoritas hasil penelitian, penyebab putus sekolah adalah tidak mampu membiayai, meskipun perlu diingat bahwa alasan tersebut merupakan jawaban yang paling mudah untuk diberikan kepada orang asing yang memberikan pertanyaan tersebut. Sebab umum kedua terjadinya putus sekolah meskipun tidak sesering alasan kemiskinan adalah terbatasnya kesadaran orang tua terhadap pendidikan. Penyelidikan yang dilakukan berlanjut pada sisa-sisa arsip yang masih tersedia di sekolah. Arsip tersebut membuktikan bahwa penyebab lain putus sekolah adalah kegagalan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Tidak disangsikan bahwa faktor ekonomi merupakan penyebab utama langsung terjadinya putus sekolah. Beberapa faktor penyebab angka putus sekolah tingkat SMA yang dianggap cukup berpengaruh adalah sebagai berikut: 

1. Pengangguran
Pengangguran adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan (BPS, 2014). Keadaan demikian dapat menyumbangkan putus sekolah karena tidak terpenuhinya biaya untuk mengenyam pendidikan.

2. Kemiskinan
Berbicara mengenai kemiskinan penduduk tentu saja tidak terlepas dari pengeluaran rata-rata rumah tangga perbulan. Asumsi ini bila dijelaskan bahwa semakin tinggi rata-rata pengeluaran rumah tangga semakin rendah kemungkinan anak untuk meninggalkan sekolah (semakin tinggi rata-rata konsumsi semakin rendah drop out). Besarnya pengeluaran untuk konsumsi memberikan arti bahwa komponen pengeluaran konsumsi lebih penting mereflesikan status ekonomi rumah tangga (Mulyanto, 1986).

Hal selaras juga dikemukakan oleh Gerungan (1988) bahwa hubungan orang tua dengan anaknya dalam status sosial-ekonomi serba cukup dan kurang mengalami berbagai tekanan fundamental seperti dalam memperoleh nafkah hidupnya yang memadai. Orang tuanya dapat mencurahkan perhatian yang lebih mendalam kepada pendidikan anaknya apabila ia tidak disulitkan dengan perkara berbagai kebutuhan primer kehidupan manusia.

3. Pendidikan Kepala Rumah Tangga
Willis dan Setyawan (1984) menyebutkan bahwa anak yang tidak melanjutkan sekolah ataupun putus sekolah dikarenakan kurangnya bimbingan dan dorongan dari orang tua. Hal ini salah satunya disebabkan oleh orang tua yang tidak punya waktu karena sibuk mencari nafkah bagi keluarga. Bagi orang tua yang bekerja di luar rumah dalam waktu yang lama, maka pengawasan terhadap keseharian anak tidak akan maksimal. Orang tua yang sibuk bekerja dengan maksud memenuhi kebutuhan keluarga tentu tidak memiliki waktu untuk mengontrol pergaulan anaknya, akibatnya anak akan mudah terpengaruh dengan keadaan lingkungan pergaulan sehari-hari bahkan cenderung membawa dampak negatif.

Yusuf (1986) menyatakan bahwa kemiskinan orang tua baik ilmu pengetahuan maupun kekayaan, akan mempengaruhi pendidikan anak-anaknya. Hal yang sama dikemukakan pula oleh Nasution (1985) bahwa untuk membantu dalam proses pendidikan sebaiknya orang tua harus belajar mempertinggi pengetahuannya, sebab semakin banyak yang diketahui orang tua semakin banyak pula yang dapat diberikan kepada anak-anaknya. Orang tua yang memperoleh pendidikan tinggi diharapkan akan timbul dorongan agar anaknya melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, dan mempunyai pertimbangan yang rasional serta wawasan yang luas dalam melihat betapa pentingnya pendidikan bagi masa depan anaknya.

Jika diamati pengaruh pendidikan orang tua terhadap pendidikan anak maka pendidikan bapak jauh lebih berarti dibandingkan dengan pengaruh pendidikan ibu. Artinya jumlah anak usia sekolah yang terdaftar di sekolah lebih dominan dipengaruhi oleh pendidikan bapak dibandingkan pendidikan ibu. 


4. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup. Sebagai ukuran kualitas hidup, IPM dibangun melalui pendekatan tiga dimensi dasar. Dimensi tersebut mencakup umur panjang (sehat), pengetahuan, dan kehidupan yang layak. Ketiga dimensi tersebut memiliki pengertian sangat luas karena terkait banyak faktor. Untuk mengukur dimensi kesehatan, digunakan angka harapan hidup waktu lahir. Selanjutnya untuk mengukur dimensi pengetahuan digunakan gabungan indikator angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah. Adapun untuk mengukur dimensi hidup layak digunakan indikator kemampuan daya beli masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok yang dilihat dari rata-rata besarnya pengeluaran per kapita sebagai pendekatan pendapatan yang mewakili capaian pembangunan untuk hidup layak (BPS, 2014).

5. Angka Partisipasi Sekolah (APS)
APS merupakan ukuran daya serap lembaga pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. APS merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan layanan pendidikan di suatu wilayah baik provinsi, kabupaten, atau kota di Indonesia yang bermanfaat untuk melihat akses penduduk pada fasilitas pendidikan khusunya bagi penduduk usia sekolah. Semakin tinggi angka partisipasi sekolah semakin besar jumlah penduduk yang berkesempatan mengenyam pendidikan. Namun demikian, meningkatnya APS tidak selalu dapat diartikan sebagai meningkatnya pemerataan kesempatan masyarakat untuk menenyam pendidikan. APS dihitung dari proporsi dari semua anak yang masih sekolah pada suatu kelompok umur tertentu terhadap penduduk dengan kelompok umur yang sesuai. Sejak tahun 2009, pendidikan Non formal (Paket A, Paket B, dan Paket C) turut diperhitungkan (BPS, 2014) 

6. Rural
Rural dapat diartikan lingkungan pedesaan, di mana suatu pedesaan masih sulit untuk berkembang, karena kebanyakan warganya sangat tertutup dengan hal-hal yang baru dan mereka masih memegang teguh adat yang telah diajarkan oleh mereka. Dari keadaan demikian sarana prasarana terutama pendidikan dan transportasi tertinggal dan dapat menyebabkan putus sekolah.

Dalyono (2005) menyatakan bahwa lingkungan sosial yang sangat berpengaruh pada proses dan hasil pendidikan adalah teman bergaul, lingkungan tetangga, dan aktivitas dalam masyarakat. Begitu pula dengan anak putus sekolah pada tingkat SMA yang berada di lingkungan teman bermain yang tidak sekolah dan sudah bekerja. Melalui pergaulan mereka maka anak yang sekolah akan terpengaruh untuk tidak sekolah juga (putus sekolah).

Gunawan (2000) mengatakan bahwa perkembangan kepribadian seseorang dapat dipengaruhi oleh lingkungan sosial sekitar tempat tinggal. Lingkungan yang dimaksudkan dalam penelitan ini adalah keadaan atau kondisi sosial yang ada disekitar anak dilihat dari tempat dan teman bermain. Dalyono (2005) mengemukakan bahwa lingkungan sosial mempunyai pengaruh terhadap pencapaian pendidikan anak dalam keluarga. Jadi, agar anak dapat memperoleh pendidikan dengan baik maka orang tua harus mengupayakan dan mengarahkan agar anak-anaknya tidak terpengaruh dengan lingkungan sosial yang kurang mendukung tercapainya pendidikan. 

7. Perceraian Orang Tua
Broken home atau rusaknya rumah tangga sebuah keluarga menjadi penyumbang terbesar angka dropt out (DO) atau anak putus sekolah. Perceraian orang tua berdampak pada anak mereka yang tidak lagi bersekolah. Pelajar juga tidak mengurus perpindahan, jika ingin pindah sekolah. Sehingga akhirnya anak usia sekolah, tidak lagi mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan, anak yang lama tidak lagi masuk sekolah, membuat sekolah memasukkan siswa itu dalam klasifikasi DO (Dalyono, 2005). 

Kurangnya perhatian orang tua cenderung akan menimbulkan berbagai masalah. Makin besar anak maka perhatian orang tua makin diperlukan, dengan cara dan variasi dan sesuai kemampuan. Kenakalan anak adalah salah satu penyebabnya adalah kurangnya perhatian orang tua. Hubungan keluarga tidak harmonis dapat berupa perceraian orang tua, hubungan antar keluarga tidak saling peduli, keadaan ini merupakan dasar anak mengalami permasalahan yang serius dan hambatan dalam pendidikannya sehingga mengakibatkan anak mengalami putus sekolah.          
 


DAFTAR PUSTAKA
C.E.Beeby. 1980. Pendidikan di Indonesia (Penilaian dan Pedoman Perencanaan). (Terjemahan BP3K dan YIIS). Jakarta: LP3ES.
Dalyono. 2005. Psikologi Pendidikan. Jakarta :Rineka Cipta.
Fuad, Ihsan. 2003. Dasar – Dasar Kependidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Gerungan, A. W. 1988. Psikologi Sosial. Jakarta: Eresco.
Gunawan, A. H. 2000. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Idris. 2011. Anak Putus Sekolah. Diakses dari http://makalahcentre.blogspot.com/2011/01/anak-putus-sekolah.html pada tanggal 5 Januari 2016 jam 00.38.
Info Dikdas. 2011. Sistem Informasi Manajemen (SIM) Dinas Pendidikan Dasar Kabupaten Bantul. Bantul: Dinas Pendidikan Dasar.
Mulyanto, S. 1986. Kemiskinan dan Kebutuhan Pokok. Jakarta: Rajawali.
Nasution, T & Nasution, N. 1985. Sosiologi Pendidikan Jakarta: Bumi Aksara.
Yusuf, A. M. 1986. Sosiologi Pendidikan: Suatu Analisis  Sosiologi tentang Berbagai Problem Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.