Senin, 09 Januari 2017

Awal Mula Bilangan



Bilangan, siapa yang tidak mengenalnya? Namun apakah kalian tahu akan sejarah atas bilangan itu sendiri?

Jika sekarang kita mengenal bilangan dari 1,2,3, … , 9 dan mengkombinasikan bilangan-bilangan tersebut untuk mendapatkan bilangan puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan. Namun bayangkan jika kita masih berada di tahun 500 sebelum masehi bahkan sebelumnya, pasti kita akan kesulitan untuk menyatakan suatu bilangan yang besar dari suatu pengamatan kita.

Oke mari belajar

Konsep bilangan yang kita kenal sekarang ternyata berawal dari suatu yang sederhana. Berawal dari keperluan manusia dahulu untuk sekedar berhitung dan mengingat jumlah. Bilangan atau bahasa matematika ini lambat laun menjadi suatu yang penting dan berkembang terus menerus mengikuti zaman berbarengan dengan bermunculannya ahli matematika sebagai penemunya.

Berawal dari orang-orang primitif yang tinggal di goa-goa, mereka yang notebenenya  masih hidup sekedar untuk bagaimana bertahan hidup, matematika bukanlah suatu hal yang penting bagi mereka. Namun lambat laun, mereka sudah mengenal hidup berpindah dari tempat satu ke tempat yang lain. Sehingga mereka mulai membutuhkan untuk mempersediakan makanannya, mulai dari berhitung banyak ternak miliknya dan bahkan ternak tetangganya. 

Pada awalnya mereka hanya berorientasi pada konsep lebih sedikit dan lebih banyak untuk melakukan perhitungan. Misal untuk membandingkan pisang, dilihat dari panjang sisirnya. Semakin panjang sisirnya maka pisang dikatakan semakin banyak. Setelah konsep tersebut, manusia mulai butuh kepastian jumlah tentang milik seseorang atau milik orang lain, sehingga berkembanglah perhitungan sederhana.

Perhitungan sederhana yang bermodalkan batuan kerikil, ranting pohon, ataupun jari tangan menjadi alat penting di zaman dahulu. Mereka mulai  bisa menyatakan banyak hewan ternak yang dipeliharanya ataupun banyak anggota keluarganya menggunkan alat bantu sederhana tersebut. Inilah dasar konsep bilangan. Sehingga, ketika seseorang mempunyai dua peliharaan dan lima anggota keluarga, mereka sudah bisa menyatakan bilangan dengan memperumpamakannya dengan 2 kerikil  untuk peliharaan dan 5 kerikil untuk anggota keluarganya. 

Saat jumlah ternak mereka semakin banyak ataupun keluarga sekaligus tetangganya semakin banyak, perhitungan menggunakan alat sederhana kerikil, lidi, ataupun jari tangan dirasa kurang praktis. Maka seseorang mulai berfikir untuk menggambarkan bilangan tersebut dengan suatu simbol (lambang), simbol tersebutlah yang kemudian disebut bilangan (angka). 

Namun untuk simbol angka untuk setiap wilayah berbeda, misalkan orang-orang babilonia menggunakan tulisan kuno yang disebut baji seperti gambar berikut:

Pada abad 500 SM, bangsa Maya di Amerika mengembangkan pelambangan bilangan (angka) dengan beberapa bentuk lingkaran dan persegi panjang yang kemudian mengkombinasikan keduanya. Orang-orang Mesir kuno (Egypt) menggunakan Hierogif seperti gambar berikut:

Sampai bilangan yang kita kenal sekarang, yakni dasarnya yang sesungguhnya berasal dari tulisan arab yang digunakan oleh umat islam diseluruh dunia. Dilain itu ada juga penulisan oleh bangsa yunani kuno, bangsa china, sampai bangsa romawi yang lambang bilangannya kita gunakan sebagai angka romawi. Sampai akhirnya pada abad kesepuluh ditemukan dalam manuskrip spanyol angka hindu-arab yang bentuknya mirip angka yang biasa kita gunakan atau seperti gambar berikut:
Kemudian dasar bilangan 0,1,2,3,…, 9 kemudian dikombinasikan untuk menyebutkan angka puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan, pengkobinasian seperti itu kita sebut “Nilai Tempat”.  Missal untuk bilangan 10, yang mengkobinasikan 1 dan 0, atau bilanagn 250 yang mengkobinasikan bilangan 2, 5, dan 0. Usut punya usut, ternyata system nilai tempat suatu bilangan ini berasal dari bangsa Babilonia. Hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana mereka menuliskan lambang bilangan mereka pada waktu itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar