Minggu, 08 Januari 2017

Kekeratonan Surakarta, Kegilaan UNO dan Kita


Agenda yang sudah direncakan jauh-jauh hari akhirnya terealisasikan. Aku yang tergabung dalam Kami pemburu Toefl 500 dari lembaga kursus English di kota pendidikan Yogyakarta akhirnya go show ke Solo kota tetangga Yogyakarta. Singkat Cerita Kami adalah kelas yang katanya paling rame diantara kelas kursus lainnya, yang biasanya ketawa ngakak tanpa koma dan spasi, yang senengnya bukan praktek speaking malah karaoke dan main UNO, begitulah kami.
 
Inilah cerita kami. Kami berangkat pukul 7.37 dari stasiun Tugu Yogyakarta, dengan menggunakan kereta parawisata (Parameks) jogja-Solo yang hanya merogoh kocek 16.000 ribu rupiah untuk kalian pulang pergi naik kereta. Mungkin karena bertepatan hari sabtu yang notebene hari libur, kami bersepuluh yakni 3 cowok dan tujuh cewek hanya dapet tujuh kursi. Akhirnya aku dan dua temen cowokku si rendy dan zaul harus berdiri. Oke tak apalah, karena kami sedikit agak kurang waras, akhirnya kami membuka lapak main UNO dengan kami cowok duduk lesehan dicelah kursi para ladies. 


Jangan tanyakan kelakuan kami saat main UNO di kereta pagi itu, kereta yang berjubel manusia dengan berbagai macam pikiran dikepalanya menjadi saksi permainan kami. Kami bermain UNO ditempat umum dengan canda tawa gemblegar, tanpa ada rasa tenggang rasa kami bersorak sorak seperti kereta milik kami sendiri. Namun naasnya, 15 menit sebelum kami sampai Solo, kami mendapat teguran dari tante tante kursi sebelah dengan nada tinggi dan mukak menyeramkan “ini bukan keretamu sendiri, ini tempat umum, tolong kondisikan ucapan kalian” dan setelah itu kami merasa jadi pusat perhatian dan banyak kali cemohan dari beberapa penumpang lain yang kami dengar.  Itu bukan pertanda akhir untuk kami main, akhirnya kami bermain UNO dengan bahasa hati yang nahan tawanya membuat kita semakin geli yang terkadang keceplosan dan sesampai di stasiun Solo apa tujuan kami? Kami antri di kamar mandi stasion. 

Setelah tertunaikan hajat kami masing-masing, kami segera naik Trans Solo untuk tujuan keraton.  Dengan biaya 4.500 perorang, sampai diturunkan di sebuah halte yang katanya sudah deket dengan keraton. Akhirnya kami berjalan seperti turis-turis mancanegara lainnya mencari dimana letak keraton. Dengan tongsis dan kamera handphone, kami mengabadikan setiap moment kami dan kamipun tiba di pusat informai kekeratonan Surakarta. Sebelum itu kami sebagai tamu, membeli tiket masuk terlebih dahulu. Tiket masuk tiap pengunjung dikenakan biaya 10.000 dan untuk sewa seorang guide sebesar 50.000 sehigga total 150.000 untuk robongan kami. Kamipun memuali perjalan sejarah ini di komplek area kekeratonan Surakarta dengan seorang guide yang menuntuk kami bersepuluh.
Tujuan pertama adalah tempat pengukuhan seorang raja baru, dimana ditempat tersebut terdapat sebuah ruang dimana katanya didalamnya tedapat pusaka kerajaan. Kami dijelaskan banyak oleh mbak guide. Sebelah tempat bangunan seperti pendopo ini terdapat sebuah pohon, pohon yang katanya umurnya melebihi keratonan Surakarta maupun keratonan Yogyakarta, pohon yang hanya ada satu spesies yang ada diSolo bahkan mungkin di Indonesia atau dunia. Pohon ini merupakan cikal bakal nama kota Solo. Sebut nama pohonnya adalah pohon “SOLO” yang secara harfiah adalah tunggal, sehingga saya percaya bahwa cuman ada satu spesies pohon tersebut. 

Solo siapa yang tidak mengerti kota tua dengan keratonan Surakartanya. Selain kota Yogyakarta, ternyata Solo juga masih mempunyai raja. Kalo raja di Yogyakarta jabatannya sudah sekaligus menjadi gubernur di kotanya yang tidak langsung sudah diakui pemerintahan Indonesia sehingga Yogyakarta mendapat julukan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Berbeda dengan raja di keraton Yogyakarta, di Solo rajanya sebatas pimpinan di wilayah kekeratonannya saja. Meskipun begitu, sesungguhnya kekeratonan Surakarta lebih tua dibandingkan kekeratonan Yogyakaarta. Kita bisa melihat salah satu buktinya yakni sebutan raja untuk kedua kerajaan. Jika di Keraton Surakarta raja kita kenal dengan pakubuwono sedangkangkan di keratonan Yogyakarta yang kita menyebutnya hamengkubono. 

Sistem pengangkatan seorang raja ternyata mempunyai aturan, dia haruslah dari putra pertama raja dengan permaisuri. Seorang raja hanya mempunyai seorang permaisuri, namun boleh mempunyai banyak selir, ada yang sampai mempunyai 45 selir loh. Oh ya untuk pemakaman para raja yang sudah meninggal, berada di Yogyakarta lebih tematnya di Kabupaten Imogiri. Silahkan berkunjung kesan jika ingin mempelajarinya.

Setelah masuk ke kompleks kekeratonan Surakarta, banyak peraturan yang harus kita taati salah satunya menjaga sikap. Untuk masuk lingkup kekertonan, bagi yang yang memakai sandal harus dilepas, namun sepatu boleh dipakai kok. Setelah masuk pintu akan kalian temui sebuah bangunan menjulang tinggi seperti menara, menara tersebut konon katanya dulu digunakan oleh para raja untuk bersemedi ataupun bercengkrama dengan ratu laut selatan.  Selain itu kalian akan melihat tanah pelataran yang terlihat hitam, yang kata mbak guide pasirnya diambil dari pantai parangtritis dan gunung merapi. 

Selain gedung menjulang tinggi, ada bangunan pendopo lagi seperti pendopo pertama tadi. Pendopo pertama tadi digunakan untuk kegiatan-kegiatan sakral seperti penobatan raja. Namun untuk pendopo yang berada dikomplek dalam kerajaan ini sebagai tempat pesta, penyambutan tamu atau tempat perayaan pernikahan raja, atau yang lain. Dipendopo tersebut di putari dengan patung-patung dari belgia, dengan ornament lampu yang dibungkus kain kuning yang katanya hadiah dari bangsa eropa.
Sebagai pengunjung, kita tidak bisa masuk ke pendopo ataupun menara, kita hanya bisa melihat dari kejauhan saja. Setelah dari pelataran kita masuk keruangan untuk melihat koleksi sejarah kerajaan, seperti photo kerajaan dari pakubuwono V sampai Pakubuwono XIII dan ornamen-ornamen kerajaan pada zaman dulu. Setelah keluar dari ruangan pertama kita pindah keruangan kedua. Kedua ruangan tersebut dipisahkan oleh sumur yang airnya bisa kalian minum, seger sekali rasanya.  Pada ruang kedua banyak menunjukkan benda-benda besar seperti kereta raja, patung-patung dan laiannya. Akhirnya kita sampai di ruang kempat, dimana bagi wanita yang lagi tidak suci dilarang masuk dan bagi temenku yang indranya mempunyai penglihatan lebih tidak berani masuk. Pikir sendiri kenapa alasannya.
 
Akhirnya setelah kami dari tempat yang katanya angker tersebut, usailah kunjungan kita di kompleks keratonan Surakarta. Mungkin hanya seperempat aja kompleks wilayah keraton yang boleh dikunjungi, untuk tiga perempatnya masih diberi garis pembatas.

Setelah kita berusaha menjadi makluk pendiam dan beberapa dari kami yang merinding ketakutan, akhirnya usailah perjalan kami dikompleks keraton Surakarta. Setelah itu kami kembali ke pusat informasi untuk beristirahat dan menciptakan nuansa positif kembali. 

Jujur kami sebelumnya ke Solo hanya ingin mencoba jadi backpacker-an dan ingin merasakan naik kereta parameks, cukup itu aja.  Singgah ke keratonan itupun kami berfikir setalah turun kereta saat tiba di Solo tadi. Saat istirahat kami berfikir kembali destinasi selanjutnya, tebak apa ide kami? akhirnya ladies mengajak mencari tempat karaoke yang ada di mall besar Solo. Kami kaum adam hanya bisa menuruti.  Akhirnya kami berjalan lagi naik Trans Solo kembali, dan ya hasilnya kami membuat kegaduhan kembali di tempat umum. Sesering mungkin aku sendiri mengucapkan maaf untuk temen-temen kepada para penumpang terutama ibu-ibu. 
Karena dari kami bersepuluh yang tak ada satupun yang mengerti seluk beluk Solo, akhirnya bermodal mulut kami bertanya dengan mbak kornet yang sabar menghadapi penumpang seperti kami. Pak sopirnya aja terheran-heran dengan senyumnya kepada kami saat berada diterminal karena Kami tidak turun bahkan satu jam di bus untuk ikut muter-muter menyaksikan penumpang naik dan turun. 

Singkat cerita dalam bus, aku sendiri menemukan wajah yang cukup familiar. Aku mencoba mencocokan wajah dan mengingat namanya, akhirnya aku menjauh dari komplotan dan duduk di samping wanita yang aku curigai. Dan ternyata benar dugaanku bahwa dia adalah kerabatku yang silsilahnya mungkin sudah jauh yang tinggalnya tidak jauh dari rumah di kampung halamam. Setelah kami mual berbincang, wuh riuh sudah kereta dengan celoteh para pendekar UNO yang omongannya selalu berlebih. akupun tak hanya diam, sesekali mennyauti sambil melanjutkan perbincanganku dengan mbak Nita. Kami berdua terheran-heran bagaimana kita bisa dipertemukan, mungkin kalo dikampung halaman kita hanya bisa bertemu di saat Hari raya. Namun naasnya aku lupa meminta No handphonenya. Akhir cerita yang tidak lain sad endingnya obrolan kami adalah “Lingkungan kita itu hampir tidak ada yang lanjut S2, kamu semangat ya bayu semoga diterima di UGM”. Sautku “Doanya nggeh mbak” akhirnya mbak turun dari Bus dan aku masih lanjutkan perjalan menuju Solo City Mall. 
 
Selama diperjalan, hujan belum usai sampai akhirnya kami  turun di haltepun belum reda. Akhirnya kami berlarian, berbasah-basah ria menuju mall dari halte dengan hujan yang deras. Wussh, nyampek Mall akhirnya kami sholat dan muter-muter mall cari makan yang akhirnya terdampar di K*C. Setelah makan, kegilaan sesungguhnya kita mulai. Kita akhirnya masuk ke tempat karaoke, nilai lebih dari kita jauh jauh ke Solo hanya untuk karaoke. Sungguh, kami aneh. Kami menyanyi di room kurang lebih dua jam sebelum dramasasi dimulai.  

Kami berencana naik kereta yang jadwal jam 5 sore, sehingga aku putuskan aku dan temenku rara si mama muda dan si gendut hida tukang resek berangkat ke stasiun duluan untuk memsan tiket. Kami bertiga berjalan kurang lebih sekilo menuju stasion Purwosari. Namun naasnya tiket kereta untuk keberangkatan jam 5 habis yang tersisa  hanya keberangkatan jam 8 malam dan tidak beruntungnya lagi untuk memesan tiketnya diperlkan KTP dari kesepuluh geng. Oke, Ada drama sebentar,antara mamud dengan suami dan kedua anaknya serta Hida dengan kedua adiknya yang terkunci di Jogja. Sampai akhirnya pasukan yang lain sampai di stasiun dan memesan tiket keberangkatan jam 8 malam. Karena waktu tunggu yang tidak lain 3 jam lebih kami agendakan untuk apa? Untuk main UNO. 

Yah kami bergegas sholat, ngobrol banyak, makan malam, dan terdampar di permainan  UNO sampai kereta sampai. Apa yang terjadi saat kita main uno? Iyah,  kita gaduh lagi di stasion Purwosari Solo. Kita bercanda dan tertawa lepas sampai akhirnya satpam dengan baju khasnya datang “Mohon maaf mas mbak, ini tempat umum, dimohon jangan membuat kegaduhan”. Oke tepuk jidat masing masing, permainan UNO sesi bahasa hati dan perasaan dimulai  kembali sampai akhirnya si mamud kalah dan kita hukum dengan toletan bedak dibagian wajahnya.  

Bunyi berisik kereta berbunyi, kereta terakhir jurusan Yogyakarta akhirnya tiba. Kamipun segera bergegas dan menunggu di disampingnya sampai kereta benar-benar berhenti. Kami berlarian masuk mencari tempat duduk, lihat setiap sisi kanan kiri dan akhirnya apa? bernasib sama tidak mendapat tempat duduk. Sampai menunggu kereta berjalan, kami akhirnya duduk lesehan di tengah jalan penghubung antar gerbong. Apa yang kami lakukan? Kami bermaksud bermain UNO tapi ini malam, banyak mukak-mukak lesuh dari penumpang lain. Sehingga kami berusaha untuk diam, tapi gagal juga, kami banyak bergurau kesana kemari, Berimajinasi dengan banyak spekulasi, bercerita kesana kemari, banyak pembahasan area 18+, topiknya lebih ke kawasan kesehatan dengan pimpinan si ceplas ceplos Mita meilani sampai celetukan “Ingat Kita Sarjana” itu sebagai pengingat rasa malu kita supaya ada.

Akhirnya kami tiba di stasiun Tugu Yogyakarta disambut hujan lagi. Berkhir pula kebersamaan kita hari itu. Kamipun pulang ke kediaman masing-masing dengan rasa capek tetapi sangat bahagia
Owh ya kelupaan, perkenalkan kami bersepuluh berasal dari kampung atau kota yang berbeda dan lulusan dari beberapa kampus di Yogyakarta kecuali saya yang lulusan UIN Malang dan Hilda lulusan UNNES Semarang. 

Aku mulai memperkenalkan dari cowoknya. Pertama, si rendy, anak yang cukup perhatian dengan pola makannya tapi gagal atur pola makan saat main kemarin. Wkwk. Selalu makan dengan porsi yang istimewa, tidak cukup dengan seporsi lauk. Owh iyah ini bocah nggak berani makan nasi. Sehingga sekali makan dia bisa  pesen 3 sekaligus  jenis lauk. Pembuat rusuh kalo ngomongin area sensitif 18+. Cowok asal bukit linggau ini lulusan UII jurusan hukum jadi kalo ngomong sama dia lebih baik ngalah atau berbuntut pada perdebatan yang panjang. Dan ini bocah ketawanya selalu saingan sama aku.

Untuk cowok kedua sebut dia Zaul, cowok asal Pati dengan gayanya yang alus dengan logat yang khas. Ah dia ini tukang timpuk kalo ngomong, ngomong nya dikit tapi berisi. Berisinya makjleb dan bikin ngakak. Cowok lulusan UNY pendidikan elektro ini pemegang kendali permainan UNO, soalnya dia pemilik kartunya. Bocah yang awal masuk diamnya minta ampun ternyata kebuka juga pertahanannya. 

Kalo ada si zaul, ada paket hematnya si Rini begitulah kami memberikan julukan. Lulusan UNY juga, jurusan Matematika seperti aku.  Mereka berdua seperti terjerat tali asmara. Tapi mereka sama-sama tak mengakuinya. Biarkkan alam yang menjadi saksi cinta mereka berdua. Lanjut, Si Rini ini anaknya diem seperti paket hematnya. Biar nanti kalo jadi menikah dapat dipastikan anak mereka bergelar pendiam pangkat dua. Owh iyah ini inak sukak banget ngrumpi dan stalkaing akun mantan-mantan pacar temennya. Haha piss

Setelah Rini ada kakanya si Hida, cewek paling resek dan hiperaktif kalo dikelas. Tapi saat perjalanan kali ini dia cukup terdiam dengan Tes masuk S2-nya di hari lusa, di lain itu dia memikirkan adiknya yang terkunci di jogja. Kalo dia nggak masuk kelas, bisa jadi kelas akan sepi. Cewek gaya cowok ini bersal dari Lampung,  daerah terkenal dengan penjambretnya. Meskipun dia paling rame dikelas, cewek lulusan farmasi UMY ini yang paling bisa ngikuti jalannya materi saat dikelas. 

Lain RIni dan Hida, ada sepasang Hida yang bikin onar kalo keduanya lagi sama-sama aktif. Sebut dia si Mita cabella, cewek lulusan Kebidanan ini jago banget kalo main ngelahirin bayi. Kalo ngomong tidak ada kampas remnya, ceplas ceplos sana sini dengan campuran tawa gelinya yang gimana gitu. Ini bocah jago banget masalah berkhayal, khayalannya tingkat dewa sudah. Gak masuk di akal, tapi selalu bikin bisa tertawa terbahak-bahak.
 
Cewek berikutnya senasib seperjuangan mita, kenalkan dia gadis asal Bengkulu yang katanya si rendy rumahnya diplosok pakek banget. Sebut dia LIta, duo geng Mita. Lita ini sebenernya pendiem, tapi virus mita aja yang bikin dia kadang bawel. Cewek ini sangat perhatian sama orang tua, tiap hari dia akan bertelfon ria dengan kedua orang tuanya.  Cewek paling perhatian sama temen-temen kelasnya juga sih, ini gadis sama lulusan kebidanan di universitas yang sama dengan Mita. Duo geng ini sudah keterima menjadi mahasiswa S2 loh, aku kapan? Hahah

Selanjutnya ada Mama muda. Masih seumuran kita, tapi dia lebih beruntung karena sudah bersertifikat halal dengan label sudah milik orang. Sudah mempunyai 2 anak. Jadi jangan ditanyakan perannya dikelas kita, sebagai mak-mak kita semua. Cewek asal pulau Sumatra ini istri polisi loh, jadi jangan berani macam-macam sama dia (Jangan laporkan kami ya mamud yang sudah bedakin di stasion Solo), owh iyah kita biasanya panggilnya bunda Rara.

Kalo yang lain asalnya luar jogja, ini cewek tulen asli jogja. Cewek yang hpnya jadi alat penangkap moment ini bernama Afi, bigitulah kami menyebutnya. Satu jurusan dan satu kampus pula sama rendy yakni jurusan Hukum. Cewek yang sikap dan cara berfikirnya sudah lumayan dewasa ini lumayan pendiem, tapi kalo dikaraoke sama aktifnya ternyata sama mamud. Oh ya mamud kalo nyanyi aduhai rasanya. Kalo mau tau lebih tentang jogja tanyakan pada si Afi ini. Tapi awas kalo belum kenal bener gampang ngigit soalnya ini kakak. 

Yang terkahir ada Si Hilda, bedakan antara Hida dan Hilda. Kalo Hida ini badannya gemuk makannya sedikit, kalo si hilda makannya banyak tubuhnya tetep kecil. Gadis asal Brebes ini lulusan UNNES Semarang. Nasibnya seperti aku berjuang masuk satu kampus yang sama. Dia ini kalo ngomong medok pakek banget. Mungkin karena bahasa kesehariannya ngapak. Ini bocah hits sosmed yang sukak kepoin akun banyak artis dan sesuatu yang jadi trending topik. Cewek ini, juga rame banget kalo dikelas dengan banyak kisahnya dan logatnya yang medok.  

Aku sendiri Anak baik yang pendiam dan ramah kesemua orang. Cukup. Dilarang protes!

Istimewanya dari kami bersepuluh, 7 anak lahir dibulan yang sama, yakni bulan Agustus. Di tanggal 2 Agustus ada Afi sama si zaul. Di tahun 1993, di tanggal dan bulan yang sama juga lahir Lita dan aku sendiri, tidak waktu lahirnya saja yang sama melainkan golongan darah kami berdua juga sama. Ditanggal 26 Ada si rini, Hida di tanggal 21, dan mamud juga di tanggal agustus. Mungkin ini pertanda baik. Misal kelas kita sampai Agustus pasti lebih seru kan ya? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar