Minggu, 15 Januari 2017

Stop!!! Buang Sampah Sembarangan. Malioboro Menjadi Lautan Sampah di Waktu Shubuh






Pagi hari ini, 15 Januari 2017. Saat kota Jogja masih terlelap, lampu-lampu kuning jalanan yang menyala indah disetiap bingkai ornament khasnya. Aku yang mengendarai motor menyusuri kota ini, Kota pendidikan, kota budaya, dan parawisata yang tak pernah sepi pengunjung  lokal ataupun mancanegara.

Kita ketahui sendiri bagaimana menariknya Jogja untuk dikunjungi, sekali dua kali ataupun lebih Jogja tidak pernah membosankan bagi para wisatawannya. Jogja masih memberikan daya tarik tersendiri bagi para penikmat wisata. Bahkan untuk setiap hari, ribuan wisatawan bisa keluar masuk hanya untuk bertegur sapa dengan Jogja.  

Mungkin iconic kota Jogja yang tak pernah terlewatkan saat seseorang berkunjung ke Jogja adalah Malioboro, siapa cobak yang tidak mengerti tempat ini, sebuah nama jalanan Jogja yang disulap menjadi tempat memanjakan para wisatawan. Di jalanan ini wisatawan akan dimanjakan dengan barang-barang khas Jogja yang siap dibawa pulang untuk dijadikan bahan oleh-oleh bagi para keluarga, temen, ataupun kerabat terdekat.

Kebanyakan orang atau wisatawan mengerti keadaan Malioboro di sore hari atau malam hari yang notebanenya berjubel manusia. Karena waktu-waktu itulah, mereka wisatawan ataupun warga Jogja beraktifitas, mulai dari yang berbelanja, menikmati keramaian Jogja, ataupun hanya sekedar menyumbang kemacetan di sepanjang jalanan  Malioboro. Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, maka ia akan meninggalkan Jogja dengan perasaan bahagia, puas, ataupun sebel.

Namun saat ini ketika waktu shubuh, aku sorang diri berkendara motor memandang kesana kemari melihatnya, Jogja tanpa kerumunan manusia. Jogja tanpa bus-bus berderet yang kerap kali menutupi bangunan yang ternyata indah dipelupuk mata. Ketika motor mengudara di jalan Malioboro, aku temukan fakta mencengangkan tentang jalanan Malioboro di shubuh hari, waktu dimana para pedagang mengistirahatkan tubuhnya setelah seharian penuh melayani wisatawan. Apa yang terjadi? jalanan dan pedestrian ini telah disulap menjadi lautan sampah yang tak enak dilihat mata, tertegun sudah aku melihat keadaan demikian.

Membuang sampah sembarangan itu seolah sudah membudaya bagi orang Indonesia. Tidak hanya di Malioboro, ditempat lainpun demikian, masih banyak individu yang kurang sadar untuk membuang sampah pada tempatnya. Perbedaanya ketika berada di Malioboro, sungguh mengenaskan keadaanya, berjubel bertumpuk sampah di setiap tempat, belum lagi bau-bau sejenis kencing sembarangan yang menyengat. Aku sempat heran dengan para wisatawan, mereka berwisata ingin memperoleh keindahan tapi untuk menjaganya saja ia tak sudi. Gimana cobak? Yah seperti itulah orang Indonesia, bagi kalian yang sudah baca tulisan ini STOP BUANG SAMPAH SEMBARANGAN. Jangan beralasan sulit mencari tempat sampah, apa salahnya menyimpannya sejenak sampai menemukan tempat sampah.

Lagi lagi aku mengapresiasi pasukan orange, pasukan kebersihan yang dibayar pemerintah untuk membersikan setiap sudut kota. Pasukan inilah yang setauku selalu berjuang membersihkan sudut kota disetiap daerah di Indonesia, tak terkecuali di Jogja tepatnya jalanan Malioboro ini. Perbedaanya, tugas mereka lebih berat karena sampah yang harus dibersihkan berjubel banyaknya dan tidak sedikit pasukan yang dikerahkan dijalanan ini.  

Anganku aja sih, seandainya jalanan Malioboro ini bersih dari kendaraan bermotor, pedagang kaki lima ditata lebih rapi, tempat sampah lebih diperbanyak, toilet-toilet umum disebar merata, ahh sudahlah pasti kumuhnya Malioboro sudah tinggal cerita. Soalnya, hasil analisis pribadi nih, jalanan ini potensial banget menjadi iconic Indonesia bagi turis mancanegara. Karena mungkin dengan Jogja memiliki Borobudur dan Prambanan sebagai kekayaan heritage Indonesia, setidaknya setiap wisatawan mancanegara berbondong-bondong ke Malioboro setelah mereka ke Borobudur ataupun Prambanan. Dan setelah mereka kembali ke Negara asalnya mereka bisa menceritakan indahnya Marioboro, kalo sekarang sih wistawan mancanegara pasti menganggap Indonesia itu kota kumuh, menurutku sih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar