Selasa, 07 Maret 2017

Karyawan Bukan Jaminan, Mari Berwirausaha





Gelar sarjana sudah engkau dapatkan, maka muncullah keadaan dimana engkau mulai berfikir keras bagaimana cara untuk bertahan hidup dari keringat sendiri. Tidak dapat dibohongi lagi, semua orang pasti inginkan itu. Mereka ingin segera membalas dendam atas segala biaya yang dikeluarkan orang tuanya sejak ia lahir sampai ia mendapatkan gelar sarjana. Bahkan yang masih ingin melanjutkan studinya di jenjang berikutnya serasa dosa jika masih menjadi benalu orang tuanya (menundukkan kepala).

Penilaian masyarakat pada umumnya seorang lulusan sarjana haruslah berpakaian rapi berdasi dan bekerja diruang ber AC, seperti menjadi seorang guru, pegawai kantoran, ataupun karyawan sebuah perusahaan. Ingat, lulusan sarjana semakin lama akan semakin meningkat sehingga pesaing untuk namamu diakui disebuah perusahaan atau instansi juga semakin ketat. Belum lagi dengan kebanyakan system perusahaan yang sudah tidak sehat lagi, dengan menerapkan system kerja kontrak, setelah habis maka diperpanjang, saat ada barang yang lebih bagus engkau ditendang. Menohok banget?

Jika para sarjana dituntut menjadi karyawan yang mengantungkan pekerjaannya kepada orang lain, terus siapa yang akan menciptakan lapangan pekerjaan untuk generasi berikutnya yang pastinya semakin banyak manusia dilahirkan. Apakah hanya orang China atau Jepang yang pantas menciptakan perusahaan-perusahaan di negeri kita sendiri Indonesia? Dengan berwirausaha, setidaknya engkau tidak menjadi penghabis jatah lapangan kerja, bisa jadi dengan berwirausaha engkau akan menambah lapangan pekerjaan dan pastinya mempunyai peluang  lebih besar untuk menjadi seorang direktur utama dibandingkan engkau menjadi seorang karyawan, karena notabennya setinggi jabatan seorang karyawan adalah posisi manager.

Mari kita hancurkan dinding tebal ini, dinding yang membuat para sarjana terkekang. Mari kita berwirausaha semampu-mampunya, banyak lini yang bisa engkau ambil. Gagal sekali dua kali sudah terbiasa, percayalah kelak akan engkau temui titik dimana engkau bisa tertawa lepas jika engkau tak mengenal lelah untuk mencoba dan berusaha. Ingat dunia nyata tak semudah teori bangku kuliah. Jatuh bangunnya berwirausaha sudah wajar adanya, ingatkah semalam suntukmu saat semester akhir yang tak menjamah kasur bantal agar segera memakai toga, perjuangan seperti itulah yang mungkin harus engkau miliki untuk menciptakan usahamu sendiri.

Sudah, jangan pernah engkau gantungkan mimpimu di tangan orang lain dengan menjadi seorang karyawan, karena akan engkau dapatkan kebebasan seluas-luasnya untuk menjadi seorang wirausahawan. Dalam berwirausaha waktu bersama keluarga, rekan, ataupun kenalan bisa diatur seelastis yang kita kehendaki. Kita tidak perlu pusing dengan jatah cuti, kita tidak perlu ribet dengan jam kerja mengikat, ataupun dengan target penjualan yang terus membayangi. Memang tak ada pekerjaan yang tak beresiko, namun berwirausaha engkau bebas.

Bagaimana bagi yang sudah menjadi seorang karyawan ataupun pekerja kantoran? Apakah dia harus meninggalkannya?  Jangan! Karena itu semua titipan atau amanah yang harus engkau tunaikan. Jalani sebaik-baiknya pekerjaan, teruslah menjadi manusia yang bermanfaat. Namun eloknya, janganlah engkau berpuas diri menjadi seorang karyawan, belajarlah mulai sekarang untuk berinvestasi, kembangkan sayapmu dengan jabatan yang engkau miliki. Bangunlah kos-kosan, ruko-ruko yang dapat engkau alirkan uang sewanya untuk terus berinvestasi dihari tua. Karena apa? Karena tidak ada jaminan sampai tua untuk engkau tetap menjadi karyawan, ada kalanya engkau lalai dan akhirnya dipecat, adakalanya perusahaan merugi dan akhirnya engkau ddi PHK. Karena itu semua kita tidak ada yang tau, maka cara satu-satunya bersiagalah dengan berinvestasi atau berwirausaha sampingan untuk batu loncatan saat ada hal yang tidak kita inginkan menyerang. Selain itu jangan pernah mempunyai sifat konsumtif dan merasa aman dengan keuangan karena gaji selangitmu, jangan pernah engkau beralasan ada pesangon ataupun uang pensiun untuk menanggung masa tua, emang pesangon dan uang pensiunmu cukup untuk modal hidupmu sampai engkau dikuburkan?

Mengerti tentang konsep kuadran kebebasan finansial oleh seorang pakar ekonomi robert kiyosaki?? Dengan membaca bukunya "Rich dad, Poor Dad" akan engkau peroleh pesan sangat mendalam, yakni janganlah puas menjadi seorang pegawai. Dalam bukunya pekerjaan seseorang dapat dikategorikan kedalam empat kuadran, yaitu kuadran I yang berisi para employe (pekerja), kuadran II yang berisi para pedagang, kuadran III yang berisi para pengusaha, dan kuadran IV yang berisi para investor ataupun seorang penanam modal. Dan kebebasan finansial hanya dimiliki oleh seorang yang berada dikuadran III dan terutama pada orang-oranag kuadran IV yang tidurnya masih mengalirkan uang .

Singkat cerita, Dilahirkan dari keluarga besar seorang pedagang membuatku berfantasi lebih untuk memasuki dunianya juga. Mungkin perbedaanya, aku seorang lulusan sarjana yang diharapkan lebih untuk disegala lini kehidupan, tak terkecuali perekonomian. Beban moral ada, tapi aku percaya dengan system berdagang yang berbeda aku dapat membedakan pedagang lulusan SD dengan pedagang lulusan sarjana. Digertak seperti apapun menjadi karyawan, seolah seemesta menolakku. seolah ada moment yang membenturkanku untuk tidak bisa mengambilnya. Dilain sisi sejak MI berjualan alat tulis sampai mainan, dari SMP berjualan pulsa, dari MAN berjualan baju sampai berjualan sari delai, belum selesai sampai disitu saat kuliahpun mencoba dipercetakan buku sampai jasa pemesanan undangan sambil mengabdikan diri untuk bermasyarakat, dan terakhir kali saat freshgraduated mencoba untuk beternak burung puyuh dan akhirnya gagal. Sudah berapa macam jenis dunia wirausaha yang dicoba, untung gagal sudah biasa. Namun pelajaran dari kegagalan yang membekas dan sulit untuk kusut ditelan masa. Mengerti dari segala macam perjalanan berwirausaha, banyak pelajaran yang bisa diambil dan tak ada rasa takutpun untuk memulai dan gagal. Dan sampai saat ini menggebu berwirausaha itu ada. Semoga berakhir dieposide sukses menjadi wiraswasta.

Mari berjuang, jatuh bangun diusia muda lebih terhormat daripada engkau di injak-injak diusia tua. Berjuang tiada batas, berdoa tak kenal pagi dan malam, dan tangan diatas adalah pengikat alat-alat yang tak engkau miliki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar