Selasa, 07 Maret 2017

Sahabat Jadi Saudara



Dari kecil sampai dewasa kelak, akan engkau temukan ribuan manusia yang mungkin pernah lalu lalang disetiap momentmu. Dari banyak moment pertemuan dengan beberapa orang, engkau akan mengenal banyak nama, banyak karakter, banyak opini tentang seseorang. Dari balita engkau kenal teman masa kecil, dari TK SD SMP dan SMA kau sebut teman sekolah, dari sebuah pertemuan yang tidak disengaja kau sebut kenalan sampai teman sehidup semati kau sebut suami ataupun istri.


Beberapa dari yang engkau tau namanya ataupun karakternya akan ada hubungan lebih dari sebuah kata teman. Yakni sebuah frase "Sahabat". Frase yang sering disematkan untuk seorang atau sekelompok orang yang mungkin mempunyai karakter, hobi, ataupun ideologi yang sama. Mereka akan merasa nyaman, bahagia, ataupun merasakan hal-hal konyol ketika bersama mereka sahabat. 


Sering mereka bercerita bagaimana dirinya dengan sesamanya, bagaimana mereka dengan keluarganya, atau sekedar bergurau menghilangkan rasa gundah dan penat yang mungkin kerap hinggap. Dari seringnya bercerita, bersenda gurau, bahkan dari apapun aktivitasnya sebuah persahabatan akan terasa lebih asyik jika aku dia dan mereka ada bersama. Tidak terpungkiri karena setiap individu menpunyai jalan hidupnya sendiri-sendiri, maka ada saat dimana jarak dan waktu menjadi batas untuk kita saling berdekatan. Jangan khawatirkan itu, masih banyak media lain yang setidaknya bisa kita gunakan untuk sebatas ngobrol dan berbagi kabar. 


Dari kedekatannya, lambat laun satu sama lain akan merasakan sejenis ikatan lebih. Tak perlu seibu dan sepersusuan lagi untuk dikatakan saudara, yang awalnya sebatas kenal, menjadi teman, kemudian bermkamuflase menjadi sahabat dan bahkan bermertafosis sempurna menjadi seorang saudara. Keadaan demikian bagaimana kita masih sering berkabar ketika lama tak jumpa, bagaimana kita bergandengan erat saat angin menerpa satu sama lain, bagaimana kita saling menasehati dan mensupport satu sama lain dan bagaimana kita mengatakan sejujurnya salah jika kita memang salah. 

Keadaan demikian membuat egomu musnah, dikala engkau gundah mereka ada, dikala kita bahagia sontak mereka menjelma, nikmat tuhan mana yang engkau dustakan jika engkau dipertemukan dengan beberapa makhluk yang banyak mengajarkan kita untuk banyak hal,  mengajarkan kita untuk bangkit, menghardik kita yang lemah, bahkan bisa jadi sebagai pundak untuk bersandar.

Namun untuk menemukan sesosok demikian perlu adanya kehati-hatian. Karena mereka bisa menjadi cerminan dirimu di mata orang lain. Jika engkau dekat dengan pencuri, jangan salahkan engkau di judge seorang pencuri. Begitulah hukum sosial yang ada, maka tak ada yang salah berteman dengannya, jika engkau merasa mampu untuk menyadarkan mereka. Dan jangan pernah engkau dekati, jika engkau khawatir malah engkau yang akan terjerumus.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar