Minggu, 12 November 2017

Olimpiade Matematika



Olimpiade adalah salah satu ajang kompetesi yang banyak diselenggarakan untuk menyaring bibit-bibit unggul dalam bidangnya. Tak terkecuali olimpiade matematika, olimpiade matematika ini sudah menjadi trend dari jaman dahulu, dari tingkat Kabupaten, Provinsi, Nasional, bahkan Internasional semua berbondong bondong menyelenggarakan kompetisi tersebut.

Umumnya olimpiade matematika diselenggarakan oleh banyak pihak seperti kampus, lembaga bimbingan belajar, atau instansi tertentu, tak terkecuali instansi pemerintahan lewat ajang OSN (Olimpiade Sains Nasional) yang diselenggaran oleh kementerian pendidikan Indonesia setiap tahun.


Ada berbagai tingkatan olimpiade matematika yang biasanya diselenggarakan, kalian bisa mengikuti sesuai dengan jenjang yang sedang kalian tempuh sekarang, mulai tingkat murid SD/MI, SMP/MTS, SMA/MAN, bahkan tingkat mahasiswa. 

Menurut pengalaman, sejak saya duduk dibangku SMP sampai SMA saya sudah mundar mandir mengikuti ajang kompetisi ini. Pertama kali saya mengikuti olimpiade yaitu saat SMP kelas dua. Saat itu melihat soalnya saja berasa asing, apalagi mau dibawa kemana soal tersebut sangat kebingungan. Hampir materi yang saya pelajari di bangku SMP berasa zonk. Sekali dua kali saya mengikuti kompetisi dan membeli buku bimbingan olimpiade mulailah soal-soal olimpiade tersebut familiar. Sehingga Kesimpulan saya bahwa ketika kalian mengikuti olimpiade matematika SMP maka persiapkan dengan mempelajari Materi SMA dan jika kalian mengikuti olimpiade Matematika tingkat SMA maka pelajari pula materi perkuliahan jurusan matematika Sarjana.

Sebenernya soal olimpiade matematika itu lebih menekankan pada kemempuan bernalar dan berlogika seseorang, sehingga kebanyakan tidak bisa dikerjakan dengan cara biasa, melainkan ada trik-trik sendiri agar pengerjaannya tidak memakan waktu yang lama, selain itu diperlukan pikiran-pikaran nakal yang cerdas untuk mencari langkah,  kreativitas mengolah informasi (soal), ketelitian dalam berhitung, dan penguasaan materi.
Meskipun saya sejak SMP sampai SMA berulang kali mengikuti olimpiade tingkat Kabupaten, tak ada satupun piala yang tersangkut. Paling- paling  masuk lima besar saat babak final. Wajar, soalnya tidak ada bimbingan dan hanya otodidak belajar sendiri dengan banyak latihan-latihan soal dan memahami pola di buku yang saya beli. Sehingga ada sih dalam benak saya "Meskipun bukan saya yang memegang piala, melihat anak didikku meegang piala itu sudah mewakili kekalahan bertubi-tubiku dulu"   

Pesan saya untuk kalian para calon juara:
Mengerjakan soal olimpiade matematika itu seperti kamu berada pada ruangan yang gelap gulita dan tidak ada sepercik cahaya sedikitpun. Apa yang kamu lakukan jika diruangan tersebut? Saya yakin kalian tidak hanya berdiam, termenung, ataupun menangis. Keyakinan saya, spontan kalian akan lari kemanapun mencari pintu untuk jalan keluar dari ruang tersebut. Sama halnya dengan itu, ketika kalian mengerjakan soal olimpiade matematika yang menurut kalian sulit(ruang gelap gulita) maka kerjakan saja, lakukan  saja apapun yang bisa kamu lakukan (berlarilah) sampai cahaya (ide) mengerjakan soal tersebut itu muncul. Jangan malah hanya diam dan frustasi, melihat soal yang rumit dan tak masuk akal.

Salam mental juara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar