Kamis, 09 November 2017

Sejarah Bilangan






Bilangan, siapa yang tidak mengenalnya? Namun apakah kalian tahu akan sejarah atas bilangan itu sendiri?

Jika sekarang kita mengenal bilangan dari 1,2,3, … , 9 dan mengkombinasikan bilangan-bilangan tersebut untuk mendapatkan bilangan puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan. Namun bayangkan jika kita masih berada di tahun 500 sebelum masehi, pasti kita akan kesulitan untuk menyatakan suatu bilngan dari suatu pengamatan kita.

Konsep bilangan yang kita kenal sekarang ternyata berawal dari suatu yang sederhana. Berawal dari keperluan manusia dahulu untuk sekedar berhitung dan mengingat jumlah, bilangan atau bahasa matematika ini lambat laun menjadi suatu yang penting dan berkembang terus menerus mengikuti zaman berbarengan dengan bermunculunnya ahli matematika sebagai penemunya.
 
Berawal dari orang-orang primitif yang tinggal di goa-goa, mereka yang notebenenya yang hidupnya masih sekedar untuk bagaimana bertahan hidup, matematika bukanlah suatu hal yang penting bagi mereka. Namun lambat laun, mereka sudah mengenal hidup berpindah dari dari tempat ke tempat lain. Maka mereka membutuhkan mulai butuh untuk mempersediakan makanannya, mulai dari berhitung banyak ternak miliknya dan bahkan tetangganya. 

Pada awalnya mereka hanya berorientasi pada konsep lebih sedikit dan lebih banyak untuk melakukan perhitungan. Misal untuk membandingkan pisang, dilihat dari panjang sisirnya. Semakin panjang sisirnya maka pisang dikatakan semakin banyak. Setelah konsep tersbut, manusia mulai butuh kepastian jumlah tentang milik seseorang atau milik orang lain, sehingga berkembanglah perhitungan sederhana.

Perhitungan sederhana yang bermodalkan batuan kerikil, ranting pohon, ataupun jari tangan menjadi alat penting di masa dahulu. Mereka mulai  bisa menyatakn banyak hewan ternak yang dipeliharanya, ataupun banyak keluarganya menggunkan alat bantu sederhana tersebut, Inilah dasar konsep bilangan. Sehingga, ketika seseorang mempunyai dua peliharaan dan lima anggota keluarga, mereka sudah bisa menyatakan bilangan dengan memperumpamakannya dengan 2 kerikil  untuk peliharaan dan 5 kerikil untuk anggota keluarganya. 

Saat jumlah ternak mereka semakin banyak ataupun keluarga sekaligus tetangganya semakin banyak, perhitungan menggunakn alat sederhana kerikil, lidi, ataupun jari tangan dirasa kurang praktis. Maka seseorang mulai berfikir untuk menggambarkan bilangan tersebut dengan suatu simbol (lambang), simbol tersebutlah yang disebut angka. 

Namun untuk simbol angka untuk setiap wilayah berbeda, misalkan orang-orang babilonia menggunakan tulisan kuno yang disebut baji. Pada abad 500 SM, bangsa Maya di Amerika mengembangkan pelambangan bilangan (angka) dengan beberapa bentuk lingkaran dan persegi panjang yang kemudian mengkombinasikan keduanya. Orang-orang Mesir kuno (Egypt) menggunakan Hierogif. Sampai bilangan yang kita kenal sekarang, yakni dasarnya yang sesungguhnya berasal dari tulisan arab yang digunakan oleh umat islam diseluruh dunia. Dilain itu ada juga penulisan oleh bangsa yunani kuno, bangsa china, sampai bangsa romawi yang lambang bilangannya kita gunakan sebagai angka romawi. Sampai akhirnya pada abad kesepuluh ditemukan dalam manuskrip spanyol angka hindu-arab yang bentuknya mirip angka yang biasa kita gunakan.

Kemudian dasar bilangan 0,1,2,3,…, 9 kemudian dikombinasikan untuk menyebutkan angka puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan, pengkobinasian seperti itu kita sebut “Nilai Tempat”.  Missal untuk bilangan 10, yang mengkobinasikan 1 dan 0, atau bilanagn 250 yang mengkobinasikan bilangan 2, 5, dan 0. Usut punya usut, ternyata system nilai tempat suatu bilangan ini berasal dari suku Babilonia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar